Selasa, 31 Januari 2012

Berbisnis itu Baik



Kata Nabi, dari 10 pintu rejeki ada dalam perniagaan.

Hadist diatas menjadi salah satu motivasi saya dalam memulai Bisnis, Oh. ya kenalkan saya Kiki Sudiana, owner dari www.Sepatubandung.com, kami memproduksi dan memasarkan sepatu dan alas bikinan kami dan juga bikinan para pengrajin Sepatu di dekat rumah saya di Bandung. Saya kebetulan sehari-hari juga bekerja sebagai HR Manager di salah satu BUMN.

Lantas kenapa saya berbisnis lagi ? bukankah apa yang saya terima dari kantor sudah cukup ? Gaji memang cukup lah.. (tapi nggak berlebih), namun ada beberapa hal yang membuat saya cukup enjoy dalam berbisnis ini, salah satunya adalah nasehat Rasul Muhammad SAW diatas.

Ada pula hal lain yang membuat saya termotivasi untuk berbisnis antara lain adalah keinginan untuk berbisnis adalah keinginan untuk sedikit ikut berperan serta dalam perekonomian riil dengan cara ikut melariskan produk bikinan para pengrajin di sekitar saya.

Dengan berbisnis, kita juga ikut berperan dalam mengurangi masalah ekonomi. Setidaknya saya sudah membantu pemerintah mengentaskan 2 orang. (Karyawan baru 12 orang… mudah2an bisa nambah sejalan dengan meningkatnya omset). Belum lagi beberapa ratus orang yang ikut (sedikit) terbantu mendapatkan pendapatan tambahan dengan bergabung menjadi Agen penjual Sepatu saya. Alhamdulillah .. ya Allah, semoga bisnis ini menjadi amal baik, karena niat awalku memang baik.

Selanjutya dengan pendapatan yang kami dapatkan, kami bisa berzakat, ber infak, bersedekah dengan lebih besar lagi… Alhamdulillah setelah berdagang ini, zakat dan sedekah saya sudah 4x lipat dari perhitungan zakat profesi bila dihitung dari Gaji saja. Mudah2an Allah menerima zakat saya dan sedekah itu menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain dan juga saya pribadi. Mungkin ini yg menjadi salah satu esensi dari hadist lain “bahwa tangan diatas itu lebih baik dari tangan dibawah”, kita kaya bukan cuman untuk diri sendiri… uang itu murni punya Allah, nah… kita cuman berupaya merebutnya supaya tidak berputar-putar di orang2 tertentu saja.. namun bisa terdistribusi merata termasuk kepada kaum dhuafa

Ada hal yang lebih penting lagi, tahukah rekan bahwa berwirausaha itu bisa menambah keimanan??

Ya.. berbisnis dan berdagang mengajarkan kita untuk tawakal kepada Allah. Bukan tawakal kepada kantor, bukan pula tawakal kepada atasan. Hanya Tawakal kepada Allah, satu-satunya Tuhan pemberi rezeki. Setujukah Anda ?

Pedagang Jujur

“Pedagang yang lurus lagi jujur, akan bersama para syuhada di hari kiamat”, demikian penegasan Nabi Muhammad saw.

Islam menjunjung tinggi profesi pedagang, khususnya pedagang yang jujur. Sampai-sampai disejajarkan penghormatannya bersama para pejuang yang tewas di medan perang dalam membela agama.

Nah sekarang apa apa kriteria pedagang yang lurus dan jujur itu? Pertanyaan ini dicoba dijawab melalui dua aspek yaitu, pertama bagaimana seharusnya seseorang berdagang, dan kedua bagaimana cara ia bersyukur atas nikmat Tuhan yang diperolehnya dari hasil usahanya sebagai pedagang itu.

Ada beberapa hal yang dinasehatkan ulama, supaya kita bisa dikategorikan sebagai pedagang yang jujur yang berhak bersanding dengan para Syuhada. Setidaknya antara lain:

Pertama, janganlah menjual barang dagangan yang haram secara substansi seperti minuman keras, daging babi, lotere, barang yang menurut penelitian yang berwenang bisa merusak kesehatan seperti narkoba atau menjual barang yang bisa merusak moral masyarakat seperti VCD porno.

Kedua, jangan menadah dan menjual barang curian walaupun substansinya halal. Dengan berbuat begitu ia menuai dosa seperti si pencuri sendiri sebagaimana diingatkan Nabi;”Barangsiapa membeli barang curian dan ia tahu bahwa barang itu dicuri, ia terlibat dalam kejahatan itu dan turut berdosa seperti si pencuri”.

Termasuk berdagang dengan sarana hasil curian juga tidak diperkenankan, misalkan Anda berdagang sepatu, Sepatu yang dijual bukan hasil curian, namun uang untuk modal berdagang adalah hasil curian. Maka bisnis seperti ini tidak akan membawa keberkahan.

Ketiga jangan berbohong atau menipu pembeli, sebagaimana ditegaskan Nabi :”Siapa yang menipu kami tidaklah termasuk golongan kami”.

Kalo stok barang tidak ada, jangan bilang barang ada hanya perlu nunggu, kalo mau ambil laba lebih jangan berdalih harga dari sononya naik. Bila tidak mau terbuka, misal soal laba atau harga beli atau sumber beli, tidak perlu berbohong, cukuplan bilang dengan senyum kepada si penanya “itu rahasia kami”. :-)

Termasuk juga ketika menjual barang cacat. Jangan ditutup-tutupi. Pada hadits yang lain dikatakan“Barang siapa menjual barang yang cacat dan tidak diberitahukannya kepada pembeli maka Allah akan selalumengutuknya dan para malaikat melaknatinya”. Penipuan bisa menyangkut kualitas dan kuantitas barang. Nabi pernah memergoki pedagang yang mencampuradukkan barang yang berkualitas baik dan yang buruk dan beliau memerintahkan agar kedua jenis barang itu dipisahkan. Kalo pada bisnis kita, bila ada cacat ya retur saja. Ongkirnya kami yang tanggung :-)

Nabi pada masa-masa awal kedatangannya di Madinah menemukan di pasar banyak sekali takaran dan timbangan yang tidak benar, sampai-sampai turunlah ayat yang bunyinya ”Celaka besarlah bagi orang-orang curang, yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka menguranginya (QS 83:1-4).

Keempat, jangan menimbun barang. Tabiat buruk ini dilakukan oleh orang yang ingin mendapat untung besar ketika jenis barang yang ditimbunnya itu langka di pasaran. Mengenai orang ini Nabi bersabda :” Orang yang melepas barang dagangannya di pasaran diberi rezeki oleh Tuhan dan orang yang menahan atau menimbunnya dikutuk Tuhan”. Mudah2an para Agen SepatuBandung terbebas dari hal ini, karena dengan sistem perdagangan kita apa yang mau ditimbun ya ? soalnya memang diupayakan malah tidak nyetok. :-)

Dalam dunia yang serba materialistik kini, sebagian orang tampaknyalupa akan nilai-nilai Islami dalam berdagang, Sikap ini sebenarnya sudah diramalkan Nabi sebagaimana terekam dari sabdanya: ”Akan datang suatu masa di mana orang tidak peduli apakah ia mendapat harta secara halal atau haram“. Hadits Nabi ini hendaknya tidak dijadikan alasan untuk menjustifikasi perbuatan terlarang dalam mencari penghasilan. Sebalikya, ia dijadikan peringatan untuk melakukan mawas diri.

Seorang pedagang – demikian juga kelompok masyarakat lainnya - hendaknya terhindar dari kriteria orang yang digambarkan dalam hadits yang bunyinya:”Janganlah Anda berangan-angan seperti orang yang mengumpulkan harta secara tidak benar, karena bila harta itu disedekahkan, sedekah itu tidak akan diterima Tuhan. Di dalam kubur sisa harta itu menyiksanya dan sesudah hari berhisab, harta itu mendorongnya masuk ke neraka”.

Selanjutnya, jangan lupa berzakat dan bersedekah dari hasil perdagangan kita ini. Tidak perlu menunggu kaya untuk bisa bersedekah. Mumpung belum mati, maka taburkanlah amal baik, karena sekaranglah saat yang paling tepat untuk menabur amal bai, ya.. ketika masih hidup.

Sehingga ketika kematian itu datang, kita akan dikenal sebagai orang baik, bukan orang (kaya) yang pelit. Setuju ??.